“Waktu itu kira-kira jam setengah 5 pagi, tiba-tiba kedengeran suara air kenceng banget. Waktu itu, kita semua lagi ada di bawah, baru bangun, si Bejo (bukan nama sebenarnya) lagi siap-siap mau berangkat ke sekolah bareng-bareng sama bapaknya. Tiba-tiba air masuk ke rumah, tadinya kita pikir banjir biasa, tapi kok baru berapa detik air udah sepinggang, ini gak normal… Langsung kita semua naik ke lantai 2, soalnya biasanya kan kalo banjir cuma sampe lantai 1, eh ternyata cuma beberapa menit air udah semata kaki kita di lantai 2. Buru-buru, bapaknya Bejo (sekali lagi bukan nama sebenarnya) ngambil tangga, trus tangga itu kita taro antara rumah kita ke rumah sebelah yang lebih tinggi buat jembatan, trus kita semua nyebrang ke sana. Kalau ga nyebrang sih, kita pasti ga selamat, Mas”, tutur seorang ibu yang berada di posko pengungsian kepada ACESeven sambil berkaca-kaca. Ibu itu berada di posko pengungsian bersama dengan suami dan seorang anaknya, mereka adalah sedikit dari korban bencana tanggul Situ Gintung yang selamat. Terlihat dari ekspresi wajahnya, ada sedikit kesedihan walaupun seluruh anggota keluarganya selamat. Ya, kesedihan karena memikirkan semua harta bendanya yang hilang terbawa aliran air yang sangat deras dan juga rumahnya yang kini tinggal puing-puing saja.
Jumat, 27 Maret 2009, dini hari menjadi saat yang tidak akan terlupakan bagi warga yang bermukim di sekitar danau Situ Gintung dan di daerah Cirendeu, Tangerang. Di saat sebagian dari kita masih terlelap tidur, ratusan orang di pemukiman padat penduduk tersebut berjuang untuk menyelamatkan nyawa mereka dan orang-orang yang mereka cintai dari terjangan air bah. Dari 31 juta kubik air tanggul Situ Gintung yang dibangun pada tahun 1930 oleh pemerintah Belanda ini, hanya tinggal menyisakan 21 juta kubik saja dalam hitungan menit. Banyak kisah terlahir dari bencana ini. Kisah ibu di atas adalah salah satu dari kisah yang berakhir cukup membahagiakan, karena mereka sekeluarga selamat tanpa menderita luka-luka atau cedera. Namun, banyak, banyak sekali kisah yang berakhir kurang membahagiakan. Sampai Minggu pagi ini, 77 orang dilaporkan meninggal, 171 orang cedera ringan dan berat, dengan 2 orang masih dirawat intensif di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, dan masih ada kurang lebih 150 orang dilaporkan hilang, kerugian material tidak terhitung lagi.
Pada hari Sabtu, 28 Maret 2009, ACESeven mendapatkan kesempatan bersama-sama dengan kelompok muda-mudi Katolik (Mudika) dari salah satu Gereja yang anggotanya juga terkena musibah jebolnya tanggul Situ Gintung untuk turun langsung ke lapangan. Sebelum bersama-sama berangkat ke tempat korban bencana, terlebih dahulu kita berkumpul di basecamp untuk mempersiapkan bantuan yang akan dibawa ke sana seperti nasi bungkus, pakaian layak pakai, susu balita, dan obat-obatan. Adapun bantuan-bantuan ini berasal dari berbagai sumber, mulai dari anggota Gereja bersangkutan, sumbangan dari Gereja luar, dan organisasi-organisasi sosial.

Posko Mudika
Di tempat terjadinya bencana, pemandangan yang ditemui ACESeven sungguh menakjubkan. Ratusan orang memadati area Cirendeu, mulai dari jalan menuju posko-posko pengungsian hingga di posko-posko pengungsiannya sendiri. Jalan Ciputat Raya yang biasanya pun sepi pada saat weekend menjadi macet total. Ratusan orang ini terdiri atas korban bencana yang terpaksa mengungsi di tenda-tenda darurat dan rumah-rumah warga yang lebih tinggi, para relawan, dan orang-orang yang sekedar ingin menyaksikan secara langsung kondisi daerah Cirendeu dan sekitarnya setelah disapu oleh air tanggul Situ Gintung.

Kondisi Sekitar Tempat Kejadian
Air bah sendiri telah surut, menyisakan tumpukan lumpur di rumah-rumah warga yang masih berdiri. Banyak rumah-rumah warga yang hanya tinggal fondasinya dan bahkan ada yang tidak bersisa sama sekali. Banyaknya relawan yang datang ke lokasi lumayan membuat kebutuhan para pengungsi terpenuhi dan meringankan beban mereka walau hanya sedikit. Ada satu hal yang disayangkan oleh ACESeven, yakni adanya beberapa partai politik yang terkesan aji mumpung memanfaatkan momen bencana ini untuk berkampanye dengan memasang jelas-jelas logo partai mereka di posko-posko bantuan yang mereka dirikan.

Puing-puing Rumah Warga

Kondisi di Rumah Warga yang Masih Berdiri
Tidak jauh dari rumah warga yang dijadikan posko pengungsian yang dikunjungi oleh ACESeven, terdapat sebuah Universitas ternama yang dijadikan tempat penampungan sementara bagi jenazah korban bencana selain menampung korban bencana yang selamat sendiri. Situasi di sana bisa dibilang sangat memilukan, sesekali tedengar tangisan, dan ACESeven sendiri juga menemui beberapa orang yang terlihat depresi karena kehilangan sanak saudara yang mereka cintai. Ada seorang bapak yang terus memeluk jenazah bayinya yang sudah dibungkus kain kafan sambil menangis, ada seorang ibu yang terlihat sangat depresi hingga berkali-kali pingsan. Ketika ACESeven coba menyelidik apa yang sebenarnya terjadi pada ibu itu, seorang relawan mengatakan ibu itu tak kuasa menerima kenyataan bahwa anaknya yang masih balita terlepaskan dari genggaman tangannya pada saat ia berusaha menyelamatkan dirinya dan anaknya di tengah aliran air yang begitu deras. Benar-benar memilukan.
Melalui post ini ACESeven mengajak pembaca untuk merenungkan betapa bencana ini hendaknya menyadarkan kita untuk senantiasa bersyukur atas segala kebahagiaan dan karunia yang kita terima setiap hari. Bahwa kita masih bisa hidup dan bernapas dan membaca blog ini sampai saat ini, bahwa orang tua, atau saudara kita tidak ada yang menjadi korban dari bencana tersebut adalah suatu anugrah dari Tuhan YME. Juga ACESeven mengajak para pembaca untuk sedikit meluangkan waktunya sebelum tidur malam ini, untuk mendoakan para korban jiwa bencana jebolnya tanggul Situ Gintung, semoga mereka diterima di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dalam hari-hari yang akan datang. Karena mungkin hanya itulah yang bisa kita lakukan untuk mereka. Sekian post ini, sebagai penutup, teriring sepenggal lagu dari Josh Groban, Thankful. ACESeven out.
JOSH GROBAN – THANKFUL
Some days we forget to look around us
Some days we can’t see the joy that surrounds us
So caught up inside ourselves
We take when we should give
So for tonight we pray for
What we know can be
And on this day we hope for
What we still can’t see
It’s up to us to be the change
And even though we all can still do more
There’s so much to be thankful for